Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Jumat, 12 Juli 2013
Senin, 03 Juni 2013
A hidden population of exotic neutron stars
A major campaign using the Chandra X-ray Observatory and
several other satellites shows magnetars may be more diverse — and
common — than previously thought.
By Chandra X-ray Center, Cambridge, Massachusetts, Marshall Space Flight Center, Huntsville, AlabamaWhen a massive star runs out of fuel, its core collapses to form a neutron star, an ultradense object about 10 to 15 miles (16 to 24 kilometers) wide. The gravitational energy released in this process blows the outer layers away in a supernova explosion and leaves the neutron star behind.
Most neutron stars are spinning rapidly — a few times a second — but a small fraction have a relatively low spin rate of once every few seconds while generating occasional large blasts of X-rays. Because the only plausible source for the energy emitted in these outbursts is the magnetic energy stored in the star, these objects are called “magnetars.”
Most magnetars have extremely high magnetic fields on their surface that are 10 to 1000 times stronger than for the average neutron star. New observations show that the magnetar known as SGR 0418+5729 (SGR 0418) doesn’t fit that pattern. It has a surface magnetic field similar to that of mainstream neutron stars.
“We have found that SGR 0418 has a much lower surface magnetic field than any other magnetar,” said Nanda Rea of the Institute of Space Science in Barcelona, Spain. “This has important consequences for how we think neutron stars evolve in time and for our understanding of supernova explosions.”
The researchers monitored SGR 0418 for over three years using Chandra, the European Space Agency’s XMM-Newton, and NASA’s Swift and RXTE satellites. They were able to make an accurate estimate of the strength of the external magnetic field by measuring how its rotation speed changes during an X-ray outburst. These outbursts are likely caused by fractures in the crust of the neutron star precipitated by the buildup of stress in a relatively strong wound-up magnetic field lurking just beneath the surface.
Senin, 22 April 2013
Kepler discovers smallest "habitable zone" planets to date
Each of these three super-Earth-sized exoplanets orbits at the right
distance from its host star for its surface to be potentially suitable
for life.
By NASA Headquarters, Washington, D.C., NASA's Ames Research Center in Moffett Field, California
By NASA Headquarters, Washington, D.C., NASA's Ames Research Center in Moffett Field, California
Sabtu, 19 Januari 2013
Studi: Simpanse Juga Bisa Berlaku Adil
Tak hanya manusia, simpanse ternyata juga memiliki rasa keadilan. Sebuah
studi di AS menemukan adanya kesamaan sikap berlaku adil antarsesama
simpanse, seperti halnya manusia.
Ini adalah kali pertama peneliti mengidentifikasi karakteristik dari simpanse yang memiliki rasa keadilan yang sama dengan manusia.
Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan permainan ultimatum atau permainan "keadilan" pada 20 orang manusia berusia dua sampai enam tahun, juga pada enam simpanse dewasa. Hasilnya, peneliti menemukan respons yang sama pada simpanse dalam bersikap adil.
Dr Proctor Darby, peneliti dari Georgia State University, mengatakan bahwa alasan penggunaan permainan Ultimatum adalah karena permainan ini menjadi salah satu cara jitu untuk menentukan rasa fair pada manusia.
Ini adalah kali pertama peneliti mengidentifikasi karakteristik dari simpanse yang memiliki rasa keadilan yang sama dengan manusia.
Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan permainan ultimatum atau permainan "keadilan" pada 20 orang manusia berusia dua sampai enam tahun, juga pada enam simpanse dewasa. Hasilnya, peneliti menemukan respons yang sama pada simpanse dalam bersikap adil.
Dr Proctor Darby, peneliti dari Georgia State University, mengatakan bahwa alasan penggunaan permainan Ultimatum adalah karena permainan ini menjadi salah satu cara jitu untuk menentukan rasa fair pada manusia.
Ilmuwan: Ikan Tidak Sakit Saat Dipancing
Saat melihat ikan
terpancing lantas menggeliat, kadang kita berpikir betapa sakitnya ikan
tersebut. Namun, opini itu ternyata salah. Ikan tidak merasakan sakit
meski tubuhnya terpancing maupun mulutnya terkoyak.
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari tujuh ilmuwan dari University of Wyoming di Amerika Serikat, telah menyimpulkan bahwa ikan tahan terhadap rasa sakit. Kenapa? Karena hewan air ini tidak memiliki kemampuan otak yang merespons rasa sakit.
Menurut studi tersebut, reaksi ikan yang menggeliat dan nampak seperti kesakitan, hanyalah reaksi bawah sadar ikan, bukan respons terhadap rasa sakit.
Setelah diteliti, ternyata ikan tidak memiliki reseptor sensor seperti halnya manusia. Reseptor ini berfungsi menanggapi sensor yang merusak dan mengirimkan sinyal ke otak. Pada manusia, reseptor inilah yang menciptakan rasa sakit.
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari tujuh ilmuwan dari University of Wyoming di Amerika Serikat, telah menyimpulkan bahwa ikan tahan terhadap rasa sakit. Kenapa? Karena hewan air ini tidak memiliki kemampuan otak yang merespons rasa sakit.
Menurut studi tersebut, reaksi ikan yang menggeliat dan nampak seperti kesakitan, hanyalah reaksi bawah sadar ikan, bukan respons terhadap rasa sakit.
Setelah diteliti, ternyata ikan tidak memiliki reseptor sensor seperti halnya manusia. Reseptor ini berfungsi menanggapi sensor yang merusak dan mengirimkan sinyal ke otak. Pada manusia, reseptor inilah yang menciptakan rasa sakit.
Langganan:
Postingan (Atom)

